Download fast and furious 6 subtitle indonesia
Aksi - aksi menegangkan disuguhkan dalam film ini ditambah dengan aksi seorang aktor Indonesia Joe Taslim yang berperan sebagai Jah.. Penasaran kan ?????
This is featured post 2 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.
This is featured post 3 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.
Sabtu, 18 Mei 2013
Spektrofotometri
A. Pengertian
Spektrofotometri
merupakan salah satu metode
dalam kimia analisis yang digunakan untuk menentukan komposisi suatu sampel
baik secara kuantitatif dan kualitatif yang didasarkan pada interaksi antara
materi dengan cahaya.
Cahaya yang dimaksud dapat berupa cahaya visibel, UV dan inframerah, sedangkan
materi dapat berupa atom dan molekul namun yang lebih berperan adalah elektron
valensi.
B.
Komponen Utama Spektrofotometri
1.
Sumber Cahaya
2.
Pengatur Intensitas
3.
Monokromator
4.
Kuvet
5.
Detektor
6.
Penguat (amplifier)
C. Hukum
Lambert-Beer
Berdasarkan hukum Lambert-Beer,
rumus yang digunakan untuk menghitung
banyaknya cahaya yang dihamburkan:
Dan absorbansi
dinyatakan dengan rumus:
Dimana I0 merupakan
intensitas cahaya datang dan It atau I1 adalah
intensitas
cahaya setelah melewati sampel.
Rumus yang diturunkan dari Hukum
Beer dapat ditulis sebagai:
Dimana:
A = Absorbansi
a = Tetapan absorbtivitas (jika konsentrasi
larutan yang diukur dalam ppm)
c = Konsentrasi larutan yang diukur
ε = Tetapan absorbtivitas molar
(jika konsentrasi larutan yang diukur dalam
ppm)
b atau terkadang digunakan l = Tebal
larutan (tebal kuvet diperhitungkan juga
umumnya 1cm)
Secara eksperimen hukum Lambert-beer akan terpenuhi apabila peralatan
yang digunakan memenuhi kriteria-kriteria berikut:
1.
Sinar
yang masuk atau sinar yang mengenai sel sampel berupa sinar dengan dengan
panjang gelombang tunggal (monokromatis).
2.
Penyerapan
sinar oleh suatu molekul yang ada di dalam larutan tidak dipengaruhi oleh
molekul yang lain yang ada bersama dalam satu larutan.
3.
Penyerapan
terjadi di dalam volume larutan yang luas penampang (tebal kuvet) yang sama.
4.
Penyerapan
tidak menghasilkan pemancaran sinar pendafluor. Artinya larutan yang diukur
harus benar-benar jernih agar tidak terjadi hamburan cahaya oleh
partikel-partikel koloid atau suspensi yang ada di dalam larutan.
5.
Konsentrasi
analit rendah. Karena apabila konsentrasi tinggi akan menggangu kelinearan
grafik absorbansi versus konsntrasi.
D.
Jenis-jenis Spektrofotometri Berdasarkan Sumber
Cahaya Yang Digunakan
1.
Spektrofotometri
Visible (Spektro Vis)
Pada spektrofotometri ini yang digunakan sebagai sumber sinar/energi adalah
cahaya tampak (visible). Cahaya visible termasuk spektrum
elektromagnetik yang dapat ditangkap oleh mata manusia.
Panjang gelombang sinar
tampak adalah 380 sampai 750 nm. Sehingga semua sinar yang dapat dilihat oleh
kita, entah itu putih, merah, biru, hijau, apapun, selama ia dapat dilihat oleh mata, maka sinar
tersebut termasuk ke dalam sinar tampak (visible).
Sumber sinar tampak yang umumnya dipakai pada spektro visible adalah
lampu Tungsten. Tungsten yang dikenal juga dengan nama Wolfram
merupakan unsur kimia dengan simbol W dan no atom 74. Tungsten mempunyai titik
didih yang tertinggi (3422 ºC) dibanding logam lainnya. karena sifat inilah
maka ia digunakan sebagai sumber lampu.
Sampel yang dapat dianalisa dengan metode ini hanya sample yang memiliki warna. Hal ini menjadi kelemahan
tersendiri dari metode spektrofotometri visible. Oleh karena itu, untuk sample yang
tidak memiliki warna harus terlebih dulu dibuat berwarna dengan menggunakan
reagent spesifik yang akan menghasilkan senyawa berwarna. Reagent yang
digunakan harus betul-betul spesifik hanya bereaksi dengan analat yang akan
dianalisa. Selain itu juga produk senyawa berwarna yang dihasilkan harus
benar-benar stabil. Salah satu contohnya adalah pada analisa kadar
protein terlarut (soluble protein). Protein terlarut dalam larutan tidak
memiliki warna. Oleh karena itu, larutan ini harus dibuat berwarna agar dapat
dianalisa. Reagent yang biasa digunakan adalah reagent Folin. Saat
protein terlarut direaksikan dengan Folin dalam suasana sedikit basa, ikatan
peptide pada protein akan membentuk senyawa kompleks yang berwarna biru yang
dapat dideteksi pada panjang gelombang sekitar 578 nm. Semakin tinggi
intensitas warna biru menandakan banyaknya senyawa kompleks yang
terbentuk yang berarti semakin besar konsentrasi protein terlarut dalam sample.
2.
Spektrofotometri Ultraviolet (UV)
Berbeda dengan spektrofotometri visible, pada spektrofotometri UV
berdasarkan interaksi sample dengan sinar UV. Sinar UV memiliki panjang
gelombang 190-380nm. Sebagai sumber sinar dapat digunakan lampu deuterium. Deuterium
disebut juga heavy hidrogen. Dia merupakan isotop hidrogen yang stabil yang terdapat
berlimpah di laut dan daratan. Inti atom deuterium mempunyai satu proton dan
satu neutron, sementara hidrogen hanya memiliki satu proton dan tidak memiliki
neutron. Nama deuterium diambil dari bahasa Yunani, deuteros, yang
berarti ‘dua’, mengacu pada intinya yang memiliki dua pertikel.
Karena sinar UV tidak dapat dideteksi oleh mata kita, maka senyawa yang
dapat menyerap sinar ini terkadang merupakan senyawa yang tidak memiliki warna.
Bening dan transparan. Oleh karena itu, sample tidak berwarna tidak
perlu dibuat berwarna dengan penambahan reagent tertentu. Bahkan sample dapat
langsung dianalisa meskipun tanpa preparasi. Namun perlu diingat, sample keruh
tetap harus dibuat jernih dengan filtrasi atau centrifugasi. Prinsip dasar pada
spektrofotometri adalah sample harus jernih dan larut sempurna. Tidak ada
partikel koloid apalagi suspensi. Sebagai contoh pada analisa protein
terlarut (soluble protein). Jika menggunakan spektrofotometri visible, sample
terlebih dulu dibuat berwarna dengan reagent Folin, maka bila menggunakan
spektrofotometri UV, sample dapat langsung dianalisa. Ikatan peptide pada protein terlarut
akan menyerap sinar UV pada panjang gelombang sekitar 280 nm. Sehingga semakin
banyak sinar yang diserap sample (Absorbansi tinggi), maka konsentrasi protein
terlarut semakin besar.
Spektrofotometri UV memang lebih simple dan mudah dibanding
spektrofotometri visible, terutama pada bagian preparasi sample. Namun harus
hati-hati juga, karena banyak kemungkinan terjadi interferensi dari senyawa
lain selain analat yang juga menyerap pada panjang gelombang UV. Hal ini
berpotensi menimbulkan bias pada hasil analisa.
3.
Spektrofotometri UV-VIS
Spektrofotometri ini merupakan gabungan antara spektrofotometri UV dan
Visible. Menggunakan dua buah sumber cahaya berbeda, sumber cahaya UV dan
sumber cahaya visible. Meskipun untuk alat yang lebih canggih sudah menggunakan
hanya satu sumber sinar sebagai sumber UV dan Vis, yaitu photodiode yang
dilengkapi dengan monokromator.
Untuk sistem spektrofotometri, UV-Vis paling banyak tersedia dan paling
populer digunakan. Kemudahan metode ini adalah dapat digunakan baik untuk
sample berwarna juga untuk sample tak berwarna.
4.
Spektrofotometri Infra Red (IR)
Dari namanya sudah bisa dimengerti bahwa spektrofotometri ini berdasar
pada penyerapan panjang gelombang infra merah. Cahaya infra merah terbagi
menjadi infra merah dekat, pertengahan, dan jauh. Infra merah pada
spektrofotometri adalah infra merah jauh dan pertengahan yang mempunyai panjang
gelombang 2.5-1000μm.
Pada spektro IR meskipun bisa digunakan untuk analisa kuantitatif, namun
biasanya lebih kepada analisa kualitatif. Umumnya spektro IR digunakan untuk
mengidentifikasi gugus fungsi pada suatu senyawa, terutama senyawa organik.
Setiap serapan pada panjang gelombang tertentu menggambarkan adanya suatu gugus
fungsi spesifik.
Hasil analisa biasanya berupa signal kromatogram hubungan intensitas IR
terhadap panjang gelombang. Untuk identifikasi, signal sample akan
dibandingkan dengan signal standard. Perlu juga diketahui bahwa sample untuk
metode ini harus dalam bentuk murni. Karena bila tidak, gangguan dari gugus
fungsi kontaminan akan mengganggu signal kurva yang diperoleh.
Terdapat juga satu jenis spektrofotometri IR lainnya yang berdasar pada
penyerapan sinar IR pendek. Spektrofotometri ini di sebut Near Infrared
Spectropgotometry (NIR). Aplikasi NIR banyak digunakan pada industri pakan dan
pangan guna analisa bahan baku yang bersifat rutin dan cepat.
Dari 4 jenis spektrofotometri ini
(UV, Vis, UV-Vis dan Ir) memiliki prinsip kerja
yang sama yaitu “adanya
interaksi antara materi dengan cahaya yang
memiliki panjang gelombang tertentu”. Perbedaannya terletak pada panjang
gelombang yang digunakan.
E. Fungsi
Masing-masing Alat
1.
Sumber
sinar polikromatis berfungsi sebagai sumber sinar polikromatis dengan berbagai
macam rentang panjang gelombang. Untuk spektrofotometer:
a.
UV
menggunakan lampu deuterium atau disebut juga heavi hidrogen
b.
VIS
menggunakan lampu tungsten yang sering disebut lampu wolfram
c.
UV-VIS
menggunan photodiode yang telah dilengkapi monokromator.
d.
Infra
merah, lampu pada panjang gelombang IR.
2.
Monokromator
berfungsi sebagai penyeleksi panjang gelombang yaitu mengubah cahaya yang
berasal dari sumber sinar polikromatis menjadi cahaya monaokromatis. Jenis
monokromator yang saat ini banyak digunakan adalah gratting atau lensa prisma dan filter optik. Jika
digunakan grating maka cahaya akan dirubah menjadi spektrum cahaya. Sedangkan
filter optik berupa lensa berwarna sehingga cahaya yang diteruskan sesuai
dengan warnya lensa yang dikenai cahaya. Ada banyak lensa warna dalam satu alat
yang digunakan sesuai dengan jenis pemeriksaan.
3.
Sel
sampel berfungsi sebagai tempat meletakan sampel.
a.
UV,
VIS dan UV-VIS menggunakan kuvet sebagai tempat sampel. Kuvet biasanya terbuat
dari kuarsa atau gelas, namun kuvet dari kuarsa yang terbuat dari silika
memiliki kualitas yang lebih baik. Hal ini disebabkan yang terbuat dari kaca
dan plastik dapat menyerap UV sehingga penggunaannya hanya pada
spektrofotometer sinar tampak (VIS). Cuvet biasanya berbentuk persegi panjang
dengan lebar 1 cm.
b.
IR,
untuk sampel cair dan padat (dalam bentuk pasta) biasanya dioleskan pada dua
lempeng natrium klorida. Untuk sampel dalam bentuk larutan dimasukan ke dalam
sel natrium klorida. Sel ini akan dipecahkan untuk mengambil kembali larutan
yang dianalisis, jika sampel yang dimiliki sangat sedikit dan harganya mahal.
4.
Detektor
berfungsi menangkap cahaya yang diteruskan dari sampel dan mengubahnya menjadi
arus listrik. Syarat-syarat sebuah detektor :
a.
Kepekaan
yang tinggi
b.
Perbandingan
isyarat atau signal dengan bising tinggi
c.
Respon
konstan pada berbagai panjang gelombang
d.
Waktu
respon cepat dan signal minimum tanpa radiasi
e.
Signal
listrik yang dihasilkan harus sebanding dengan tenaga radiasi
Macam-macam detektor:
a.
Detektor
foto (Photo detector)
b.
Photocell,
misalnya CdS
c.
Phototube
d.
Hantaran
foto
e.
Dioda
foto
f.
Detektor
panas
5.
Read
out merupakan suatu sistem baca yang menangkap besarnya isyarat listrik yang
berasal dari detektor.
F.
Cara Kerja
1.
Sumber cahaya polikromatis masuk ke dalam
monokromator (disini terjadi penyebaran cahaya)
2.
Dari monokromator kemudian keluar menuju ke sel
sampel, pada sel sampel ini terjadi
proses penyerapan cahaya oleh zat yang ada dalam sel sampel (dimana cahaya yang
masuk lebih terang dibandingkan cahaya
setelah keluar)
3.
Selanjutnya cahaya ditangkap oleh detektor dan mengubahnya
menjadi arus listrik
Kromatografi
Kromatografi adalah suatu teknik
pemisahan campuran yang didasarkan atas perbedaan distribusi dari
komponen-komponen campuran yang ada di dalam sampel di antara dua fase,
yakni fase diam (padat atau cair) dan fase gerak. Ada banyak macam-macam
kromatografi tapi disini saya akan menjelaskan empat macam kromatografi saja,
yaitu kromatografi gas, kromatografi cair Kinerja Tinggi, kromatografi kertas,
dan kromatografi lapis tipis.
1. Kromatografi
Gas
a.
Pengertian
Kromatografi Gas adalah proses pemisahan campuran
menjadi komponen-komponennya dengan menggunakan gas sebagai fase bergerak yang
melewati suatu lapisan serapan (sorben) yang diam.
b.
Prinsip Kromatografi Gas
Kromatografi gas mempunyai prinsip sama dengan
kromatografi lainnya, tapi memiliki beberapa perbedaan misalnya proses
pemisahan campuran dilakukan antara stasionary fase cair dan gas fase gerak dan
pada oven temperatur gas dapat dikontrol sedangkan pada kromatografi kolom
hanya pada tahap fase cair dan temperatur tidak dimiliki.
c.
Alat Kromatografi Gas
1)
Fase Mobil (Gas Pembawa)
2)
Sistem Injeksi Sampel
3)
Kolom
4)
Detektor
5)
Pencatat (Recorder)
d.
Cara Kerja
1)
Gas di dalam silinder baja gialirkan melalui
kolom yang berisi fasa diam.
2)
Cuplikan disuntikan pada aliran gas.
3)
Cuplikan dibawa oleh gas pembawa menuju kolom di
sana terjadi proses pemisahan.
4)
Komponen yang sudah terpisah meninggakan kolom.
5) Suatu detektor yang sudah dileyakkan di ujung
kolom digunakan untuk mendeteksi jenismaupun jumlah tiap komponen.
6)
Hasil pendeteksi direkam oleh detektor yang
disebut kromatogram, yang terdiri dari beberapa peak.
e.
Kelebihan
1)
Waktu analisis yang singkat dan ketajaman
pemisahan yang tinggi.
2)
Dapat menggunakan kolom lebih panjang untuk
menghasilkan efisiensi pemisahan yang tinggi.
3)
Gas mempunyai vikositas yang rendah.
4)
Kesetimbangan partisi antara gas dan cairan
berlangsung cepat sehingga analisis relatif cepat dan sensitifitasnya tinggi.
5)
Pemakaian fase cair memungkinkan kita memilih
dari sejumlah fase diam yang sangat beragam yang akan memisahkan hampir segala
macam campuran.
f.
Kekurangan
1)
Teknik Kromatografi gas terbatas untuk zat yang
mudah menguap.
2)
Kromatografi gas tidak mudah dipakai untuk
memisahkan campuran dalam jumlah besar. Pemisahan pada tingkat mg mudah
dilakukan, pemisahan pada tingkat gram mungkin dilakukan, tetapi pemisahan
dalam tingkat pon atau ton sukar dilakukan kecuali jika ada metode lain.
3)
Fase gas dibandingkan sebagian besar fase cair
tidak bersifat reaktif terhadap fase diam dan zat terlarut.
2. Kromatografi
Cair Kinerja Tinggi
a.
Pengertian
Kromatografi Cair Kinerja Tinggi merupakan salah satu
metode kimia dan fisikokimia. Kromatografi Cair Kinerja Tinggi termasuk metode
analisis terbaru yaitu suatu teknik kromatografi dengan fasa gerak cairan dan
fasa diam cairan atau padat.
b.
Prinsip Kromatografi Cair Kinerja Tinggi
1)
Fasa
gerak cair dialirkan melalui kolom ke
detektor dengan bantuan
pompa.
2)
Sempel
dimasukkan ke dalam fase gerak .
3)
Di
dalam kolom terjadi pemisahan komponen campuran berdasarkan kekuatan interaksi
solut dengan fasa diam. Solut yang berinteraksi lemah akan keluar lebih
dulu .
4)
Setiap
komponen yang keluar akan dideteksi oleh detektor lalu direkam dalam bentuk
kromatogram.
c.
Alat Kromatografi Cair Kinerja Tinggi
1)
Tempat Pelarut
2)
Pompa
3)
Tempat Injeksi Sampel
4)
Kolom
5)
Detektor
6)
Rekorder
d.
Cara Kerja
1)
Mula-mula
solven diambil melalui pompa.
2)
Solven
ini dikemudian masuk ke dalam katup injeksi berbutar, yang dipasang tepat pada sampel loop.
3)
Sampel
dimasukan ke dalam sampel loop yang kemudian bersama-sama dengan solven
masuk kedalam kolom.
4)
Hasil pemisahan dideteksi oleh detektor, yang penampakannya ditunjukan oleh perekam
(pencatat = recorder).
e.
Kelebihan
1)
Cepat
2)
Kolom dapat digunakan kembali
3)
Ideal untuk zat bermolekul besar dan berionik
4)
Mudah rekoveri sampel
f.
Kekurangan
1)
Memerlukan biaya yang banyak untuk proses pemisahannya
2)
Memerlukan orang yang trampil dalam pemisahannya
3. Kromatografi
Kertas
a.
Pengertian
Kromatografi Kertas adalah teknik metode analisis
untuk memisahkan dan mengidentifikasi campuran yang bisa berwarna (terutama
pigmen) yang terdiri dari dua
fasa yaitu fasa diam dan fasa gerak.
b.
Prinsip Kromatografi Kertas
Pelarut
bergerak lambat pada kertas, komponen-komponen
bergerak pada laju yang berbeda dan campuran dipisahkan berdasarkan pada
perbedaan bercak warna.
c.
Alat dan Bahan
i.
Alat
1)
Bejana dan penutupnya
2)
Penggaris
3)
Pipa Kapiler
4)
Pensil atau Ballpoint
5)
Gunting
6)
Penjepit Kertas
ii.
Bahan
1)
Kertas Saring
2)
Noda (bisa berupa spidol, stabilo, dan zat warna
lainnya)
3)
Pelarut yang cocok dengan noda
d.
Cara Kerja
1)
Potong kertas saring menjadi berbentuk persegi
panjang (ukuran terserah kalian yang penting bisa masuk ke dalam bejana, jangan
terlalu besar dan jangan terlalu kecil).
2)
Garis ujung kertas bagian bawah (minimal jarak
dari ujung kertas 1 cm untuk mencegah kontak langsung dengan pelarut).
3)
Tetesi noda pada garis pembatas pada kertas.
4)
Masukkan kertas yang sudah ditetesi noda tadi
kedalam bejana yang sebelumnya sudah diberi pelarut.
5)
Tunggu hingga beberapa menit sampai proses
penyerapan selesai.
6)
Setelah itu kertas dikeringkan.
7)
Ukur jarak yang ditempuh pelarut dan komponen
noda yang dipisahkan dan hitung nilai Rf noda tersebut.
4. Kromatografi
Lapis Tipis
a.
Pengertian
Kromatografi Lapis Tipis adalah suatu teknik pemisahan yang sederhana dan
banyak digunakan. Metode ini menggunakan lempeng kaca atau lembaran plastik
yang ditutupi penyerap untuk lapisan tipis dan kering bentuk silika gel,
alomina, selulosa dan polianida.
b.
Prinsip Kromatografi Lapis Tipis
1)
memisahkan
sampel berdasarkan perbedaan kepolaran antara sampel dengan pelarut yang
digunakan.
2)
kromatografi
lapis tipis memiliki fase
diam berupa sebuah lapis tipis silika atau alumina dan fase gerak pelarut
atau campuran pelarut (eluen) yang sesuai.
c.
Alat
1)
Silika Gel (fase diam) dan Pewarna (fase gerak)
2)
Gelas kimia atau bejana
3)
Lempengan
4)
pensil
d.
Cara Kerja
1)
Kita siapkan alat.
2)
Gambar sebuah garis menggunakan pensil pada
bagian bawah lempengan (jarak garis dari ujung lempengan berkisar antara 1-2cm).
3)
Teteskan pelarut dari campuran pewarna pada
garis lempengan.
4)
Masukkan lempengan pada gelas kimia (jangan
sampai terkena pelarut).
5)
Komponen yang berbeda dari campuran pewarna akan
bergerak pada kecepatan yang berbeda dan akan tampak sebagai perbedaan bercak
warna.
e.
Kegunaan
1)
Untuk
penentuan jumlah komponen dalam campuran.
2)
Untuk
penentuan identitas antara dua campuran.
3)
Untuk
memonitor perkembangan reaksi.
4)
Untuk
penentuan keefektifan pemurnian.
5)
Untuk
penentuan kondisi yang sesuai untuk pemisahan pada kromatografi kolom.
6)
Untuk
memonitor kromatografi kolom .


13.56.00
Unknown







